Sudah lama tidak menulis di blog ini (dan blog manapun) karena memang kurang suka menulis :D. Padahal banyak hal yang kadang terlintas dan ingin ditulis tapi sayang karena tidak dan belum hobi menulis hanya sekedar menjadi opini tertahan atau paling jauh hanya tertuang di status facebook atau twitter.

Oh iya, berkaitan dengan judul di atas “Di Penghujung”, tulisan ini memang saya buat khusus di penghujung status saya sebagai mahasiswa IPB atau bahkan mungkin di awal perjalanan dengan status alumni IPB. Banyak cerita yang harusnya bisa di tulis di blog mahasiswa (sampai tulisan ini di post alamat blognya belum berubah menjadi .alumni.ipb.ac.id) ini dari awal masuk sampai sekarang, tapi terhitung hanya beberapa tulisan yang di post.

Di penghujung, saya merasakan beratnya langkah kaki saya saat ingin mendaftar upacara “sakral” bagi setiap civitas akademika. Berat karena sebenarnya saya masih belum puas dengan apa yang (belum) pernah saya buat di kampus ini. Kalau dibuat ringkasan perjalanan saya sebagai mahasiswa S1 di IPB mungkin hanya membutuhkan beberapa halaman dengan isi yang standar tanpa ada cerita tambahan yang mengesankan. Yah begitulah, tapi hidup harus terus mengalir.

Di penghujung, saya berharap semua yang saya dapat di institusi yang luar biasa ini, tidak sia-sia.

Terima kasih almamater….

Berikut link download gambar rumah tanaman beserta makalah.

http://www.4shared.com/rar/y0NmGW7j/rantek_M_Ikhsan_F14100088.html

Membiarkan pergi adalah sama seperti kita berdiri di halte, lantas setelah ditunggu lama, sebuah bus mendekat, penumpang naik, bus beranjak jalan, menjauh, dan kita tetap berdiri di halte tersebut. Menatapnya dengan segenap perasaan.Membiarkan pergi adalah salah satu cabang perasaan sejati. Seberapa lama pun kita telah menunggu bus itu, seberapa penting urusan kita, namun kita,membiarkan pergi dgn ihklas, karena boleh jadi itu keputusan terbaik atas nama kehormatan perasaan.

–tere lije

Kata-kata tersebut saya dapat dari update status fanpage Darwis Tere Liye, pertama baca saya langsung menyukai status tersebut terlebih kalimat terakhir ” karena boleh jadi itu keputusan terbaik atas nama kehormatan perasaan.”
Tak perlu lah saya membahas kenapa status tersebut saya ‘like’ dan ‘share’ :) berhubung Persib bentar lagi maen lawan Persepam MU :p

Tak terasa saya sudah menginjak semester 6 di Perguruan Tinggi yang pada tahun ini (2013) mendapat nilai akreditasi tertinggi ke-2 se-Indonesia versi BAN-PT ;). Menurut tradisi Fateta, setiap alih semester 6 ke semester 7, mahasiswa Fateta dari tiga departemen (TMB,TIN dan SIL) wajib melakukan praktik lapangan selama minimal 40 hari kerja. Sempat terlintas pertanyaan, kenapa departemen ITP tidak melakukan praktik lapangan juga? Ternyata mahasiswa ITP melakukan praktikum terpadu yang mungkin lebih menunjang kompetensi mereka.

Sekilas tentang PL, menurut Pedoman Praktik Lapangan yang dikeluarkan oleh panitia PL Fateta, PL merupakan salah satu kegitan intrakulikuler di dalam kurikulum Departemen Teknik Pertanian [Teknik Mesin dan Biosistem] dan Departemen Teknologi Industri Pertanian [dan Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan], Fateta IPB. Dalam pelaksanaannya PL melibatkan banyak pihak, yaitu mahasiswa, panitia PL, dosen pembimbing akademik dan pihak di instansi tempat melaksanakan PL itu sendiri, yang masing-masing dapat memiliki persepsi berbeda tentang program PL di Fateta IPB.

Kegiatan PL di Fateta berbeda dengan KKP atau jenis kegiatan lain yang biasa diselenggarakan oleh Fakultas/Departemen lain. Perbedaan terdapat pada tempat dan tujuan kegiatan. KKP/KKN yang diselenggarakan Faperta bertujuan untuk pengabdian kepada masyarakat umum, kegiatan yang dilakukan pun lebih mengarah kepada pemberdayaan masyarakat di sekitar tempat mahasiswa melakukan KKP/KKN. Hal tersebut berbeda dengan PL yang dilakukan mahasiswa Fateta. Mahasiswa Fateta di tempatkan secara kelompok maupun individu di industri-industri yang berkaitan dengan bidang keilmuan di Fateta. Sehingga tujuan PL di Fateta lebih mengarah kepada penerapan pengetahuan yang didapat  di kampus. Diharapkan mahasiswa yang melakukan PL, dapat beradaptasi dengan atmosfer dunia kerja atau industri pertanian secara umum. Namun kegiatan PL tidak hanya terpaku di industri-industri mapan, mahasiswa dapat memilih PL di tempat-tempat lain yang berhubungan dengan bidang keilmuan Fateta, seperti Koperasi Pertanian, Gapoktan, Pusat Penelitian atau instansi pemerintah.

Secara tradisi, PL Fateta selalu disambut baik oleh instansi terkait karena telah banyak manfaat yang dirasakan oleh instansi tempat berlangsungnya PL. Banyak mahasiswa yang memberikan saran-saran yang membangun bagi instansi terkait, tak jarang saran mahasiswa diterapkan secara langsung, bahkan ada mahasiswa yang diminta oleh instansi tempat berlangsung PL untuk bekerja pada perusahaan/instansi tersebut. Manfaat besar juga dirasakan oleh mahasiswa karena bisa merasakan kondisi real di lapangan, serta bisa menerapkan pengetahuan yang biasanya hanya bisa dipraktekan dalam skala lab. Selain itu, PL juga bisa ajang untuk mendekatkan IPB dan Fateta khususnya kepada masyarakat dan instansi-instansi luar sehingga diharapkan terjalin hubungan yang baik untuk kemajuan pertanian Indonesia.

 

Coozzzer, saya ingin sedikit membahas tentang Departemen saya yang berubah / berkembang / berevolusi *apapun itu. Yap Departemen Teknik Mesin dan Biosistem (TMB) IPB yang dulunya bernama Teknik Pertanian (TEP). Perubahan ini terjadi saat rentang 2008-2010 dan disahkan oleh Rektor pada tahun 2010. Jadi saya termasuk angkatan pertama yang masuk di Departemen ini setelah perubahan, meskipun pada dasarnya tetap menjadi bagian keluarga Mekanisasi Pertanian / Teknik Pertanian / Teknik Mesin dan Biosistem.  Hal tersebut karena Departemen Teknik Mesin dan Biosistem merupakan hasil pemecahan departemen TEP yakni SIL (Teknik Sipil dan Lingkungan) dan TMB, SIL memisahkan dari dari TEP kemudian TEP berubah menjadi TMB.

Menurut dosen, pergantian nama tersebut terjadi karena beberapa hal, diantaranya kebutuhan pasar kerja. Jadi ga sembarangan berubah nama. Dulunya TEP memiliki tujuh bagian diantaranya yang berhubungan dengan Teknik Tanah dan Irigasi, Bagunan Pertanian dan satu lagi lupa, hehe. Dari bagian tersebut lah akhirnya dept SIL berdiri dan sisanya berubah menjadi Teknik Mesin & Otomasi, Teknik Biosistem, Teknik Energi Terbarukan dan Teknik Bio-Informatika yang tergabung didalam Dept TMB.

Departemen TMB / TEP / MEP telah berdiri sejak 1964 dan merupakan jurusan pelopor keteknikan pertanian di Indonesia and I Proud to be AE (meskipun sekarang Engineer doank).  Departemen ini telah berkontribusi besar terhadap pertanian Indonesia, dan disegani di seluruh jurusan TEP di Indonesia. Banyak kerjasama baik dalam maupun luar negeri telah dijjalin baik dalam hal akademis mauun industri. Dan setelah pergantian ini Indonesia semakin berharap kepada Dept TMB untuk memajukan pertanian Indonesia.

Postingan ini didedikasikan untuk PJL-PJL MPKMB 47 tercinta terutama PJL Laskar 27, Para Komdis yang sangat saya hormati(baca:takuti) dan teman-teman laskar inspirasi. . .hidup komdis!!

Nama              : Mohammad Ikhsan

NIM                : F14100088

Laskar            : 27

Cerita 1

Ketika kita memiliki target / tujuan yang jelas maka akan memudahkan kita untuk mencapai tujuan tersebut. Itulah yang saya rasakan, pada suatu sore sepulang dari sekolah saya merenung di kamar. Hidup ini terasa capek kalau kita tidak memiliki tujuan dan tidak menikmatinya. Maka sayapun mengambil selembar kertas kosong dan menuliskan tujuan saya sekolah dan target-target yang ingin dicapai. Tak banyak, hanya mengahabiskan setengah halaman. Kemudian saya tempel di dinding kamar.

Setiap berangkat sekolah saya selalu melihat target-target besar saya juga target harian yang saya canangkan sebelum berangkat sekolah untuk kemudian dievaluasi pada waktu malam hari. Begitu seterusnya sampai akhirnya saya tak merasa capek lagi untuk melakukan aktivitas seperti bersekolah dan belajar di luar sekolah karena saya memiliki target dan saya ingin merasakan kepuasan ketika target itu tercapai.

Cerita 2

Kehidupannya telah cukup mapan dengan pekerjaan dia sebagai staff bank daerah tetapi dia berkeinginan untuk membuat usaha yang dapat membantu orang-orang disekitarnya. Dengan menyisihkan gaji yang  diterima setiap bulannya, ia mencoba bisnis jual-beli kendaraan bekas. Pada awalnya hanya motor bekas yang menjadi lahannya. Dia membeli motor bekas yang kondisinya sudah kurang enak untuk dikendarai kemudian dengan sedikit keahliannya dia memperbaikinya untuk kemudian menjualnya kembali. Dari bisnis itu ia mendapatkan untung yang lumayan. Beberapa tahun kemudian dia dapat membeli sebuah mobil, bukan mobil baru tapi mobil bekas untuk kemudian diperbaiki dan dijualnya kembali. Akhirnya setelah beberapa tahun di garasinya terparkir beberapa mobil. Bahkan sekarang dia telah menjadi seorang direktur sebuah bank pembangunan daerah yang dulu dia hanya jadi karyawan. Dan dia pun mengembangkan usahanya dengan membuka bengkel di samping rumahnya bukan hanya itu dia juga memiliki beberapa kendaraan angkutan umum. Berwirausaha tidak harus meninggalkan pekerjaan “kantoran”. Keduanya dapat kita jalani bersamaan secara baik apabila kita dapat mengaturnya.

June 2017
S M T W T F S
« Sep    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930